Copyright © 2013 NW ILMU Praya | Official Website of Ikatan Alumni YANMU (ILMU) NW Praya | Developed by Hujan Rintik-rintik Mohon Maaf, mungkin hasil terjemahan untuk halaman ini kurang tepat, karena perbedaan grammer tiap-tiap bahasa dan negara. (Depkominfo ILMU)
Slide 1 Slide 2 Slide 3 Slide 4 Slide 5
Diposting oleh Zainul Hal | 0 komentar

Muslimah Menjunjung Panji Islam (Berteladan dari kisah Aisyah radhiyallahu anha)

Ibunya orang beriman, isteri nabi Muhammad sekaligus putri dari as-Siddiq adalah sosok yang pantas diteladani oleh seluruh mu'minah di sepanjang zaman. Ia adalah wanita pemilik kemuliaan yang tak tertandingi Aisyah -lah manusia yang paling berilmu tentang al quran, karena kehidupannya yang selalu bersanding dengan pembawa risalah islam, dan beliau menyaksikan Al quran yang turun di rumah beliau. Paling berilmu, karena paham bagaimana wujud penjabaran Al quran dalam kehidupan sehari-hari, dipraktikkan dalam perkataan, perbuatan, budi pekerti, akhlaq dan adab oleh rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Beliau pula wanita yang paling berilmu tentang hadits, fikih, pengobatan, syair dan hikmah. Sehingga sangat wajar ketika abu bardah mengatakan :
"apabila ada sebuah permasalahan yang tidak diketahui di zaman sahabat , maka kami bertanya kepada aisyah, dan kami memperoleh ilmu dari beliau".
Seorang sahabat yang lain mengatakan
"saya tidak mengetahui ada orang yang lebih berilmu tentang al quran, faraidh(ilmu waris) , halal dan haram, syair, sejarah dan nasab kecuali aisyah".


Di kesempatan yang lain kita akan dapatkan bagaimana wujud konkrit tarbiyah di atas manhaj nabawi pada diri aisyah. Umar bin khatab ketika menjelang wafat , berkata kepada abdullah (anaknya). "Pergilah kepada Aisyah, sampaikan salamku padanya, dan mintakan ijin agar aku diperbolehkan dimakamkan di rumahnya bersama Rasulullah dan Abu Bakar. Maka Abdullah pun mendatangi aisyah dan menyampaikan pesan ayahnya. Aisyah mengatakan "baik dan ini adalah sebuah kemuliaan" dan melanjutkan dengan berkata "wahai anakku, sampaikan salamku kepada Umar , dan katakan padanya jangan tinggalkan umat Muhammad tanpa pimpinan, pilihlah khalifah bagi umat dan jangan tinggalkan umat dalam keadaan sia-sia setelahmu, karena aku takut terjadi fitnah atas umat ini."


Wahai wanita mukminah, saksikanlah bagaimana keagungan perjalanan mereka yang ditarbiyah dalam rumah-tangga nabi. Perhatikan bagaimanakah nasehat dan pandangan aisyah untuk mengangkat khalifah setelah Umar, karena khawatir terjadinya fitnah. Seakan aisyah menyaksikan hal-hal yang akan berlangsung di masa mendatang, padahal tidaklah ia tahu tentang hal yang ghaib, namun ini adalah firasat seorang mukmin yang beriman kepada Allah dan RasulNya. Beliau tak hanya sebatas melihat tentang dekatnya kematian umar dan tentang masalah di mana Umar akan dimakamkan, namun beliau melihat bagaimana kehidupan umat Islam setelah Umar meninggal. Dari sini terlihat keluasan pandangan, jauhnya pemikiran ke depan dan sekaligus perhatian yang sangat besar tentang urusan umat Islam. Inilah yang semestinya diteladani oleh wanita mukminah di zaman ini.

Sosok seorang Aisyah rhadiyallahu anha, memberikan ibrah yang berharga bagi para mukminah. Kedalaman ilmu, kecerdasan dan perhatiannya terhadap umat adalah warisan yang berharga yang terus bisa diwarisi sampai hari ini. Terbukti dengan kedudukan beliau yang tercakup dalam tujuh orang di kalangan sahabat yang banyak menghafal fatwa-fatwa dari para sahabat.

Panji Islam di sepanjang sejarah akan selalu tegak dengan para penyandangnya. Dan Aisyah adalah salah satu penegak panji Islam di awal terbitnya cahaya Islam. Sebuah bukti bahwa wanita pun memiliki peran yang sangat besar dalam memperjuangkan Islam. Tidak hanya untuk membuang waktu untuk berbagai pekerjaan yang sia-sia, sebagaimana yang dilakukan oleh mayoritas muslimah di zaman ini.


Panji Islam memang akan tetap tegak dengan para pejuangnya sepanjang masa. Namun apakah kita para wanita mukminah menjadi bagian dari penyandang dan penegak risalah atau tidak, maka jawabnya ada pada diri kita. 

Read more...
Diposting oleh Zainul Hal | 0 komentar

Al-Qur'an Online : Membaca Al-Qur'an, Terjemahan dan Tafsirnya.


Read more...
Diposting oleh Zainul Hal | 0 komentar

REUNI 2014 : Media Silaturrahim menuju ILMU yang Madani


Manusia adalah makhluk sosial ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dengan kualitas intelektual yang dimilikinya. Atas dasar inilah, interaksi sosial menjadi kebutuhan sekaligus merupakan konsekuensi alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia. Artinya, dalam suatu kondisi normal tanpa suatu distorsi yang berarti, manusia akan selalu berinteraksi satu sama lain apapun dan bagaimanapun keadaan yang menyertainya. Untuk itulah dikenal suatu komunitas manusia yang dinamakan ‘masyarakat’. Ikatan Alumni YANMU (ILMU) NW Praya adalah gambaran salah satu bentuk komunitas kecil masyarakat, dimana dalam komunitas tersebut segala bentuk kegiatan maupun program yang direncanakan sangat berpotensi  untuk membangun kepribadian, hubungan baik antar sesama alumni maupun masyarakat lainnya dengan mediasi “Falyashil Rahimah”, sehingga akan terwujudlah sebuah masyarakat ILMU yang berintelektual, berakhlaqul karimah serta bermartabat demi memperjuangkan agama, membangun nusa dan bangsa. Atas dasar kualitas intelektual yang dimiliki inilah, sudah sepantasnya ILMU ikut mengambil andil dalam membangun tatanan masyarakat berbangsa dan bernegara yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling berkualitas secara intelektual dan paling tinggi derajatnya. Dan konsep masyarakat ILMU yang madani adalah jawabannya.

Masyarakat madani secara sederhana bisa dipahami sebagai masyarakat berperadaban dan berbudaya. Dari pengertian ini, masyarakat Islam di awal-awal hijriah dianggap telah mencapai suatu kondisi masyarakat madani, karena seperti yang kita tahu, pada saat itu kekhalifahan telah mencapai suatu titik peradaban yang sangat tinggi pada zamannya, dimana instrumen-instrumen sosialnya mampu berfungsi dengan baik dan mampu melahirkan manusia-manusia berkualitas seperti para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ at-Tabi’in, Imam al-Arba’ah, Ibn Sina, Al-Raazi, dan lain sebagainya.

Masyarakat madani dalam konteks Islam bisa dipahami sebagai masyarakat berperadaban dan berbudaya yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap lini kehidupannya. Manusia sebagai entitas terkecil dari suatu masyarakat dituntut tidak hanya harus bisa membangun hubungan baik dengan Tuhannya, melainkan juga harus mampu membina hubungan baik dengan sesama manusia dan dengan alamnya. Dari sinilah peran hukum Islam sangat penting sebagai penuntun untuk mencapai suatu kondisi ideal kemasyarakatan dalam bingkai masyarakat madani.

Nilai-nilai ke-Islam-an yang dimanifestasikan dalam hukum Islam inilah yang selanjutnya harus dijaga, dilestarikan dan diamalkan secara konsisten meskipun muncul wacana formalisasi hukum Islam sehingga kemudian melahirkan suatu polemik mengenai hukum Islam dari mahzab mana yang harus dipakai, tetapi ada satu hal yang harus digaris bawahi bahwa penerapan hukum Islam hendaknya membawa suatu kemaslahatan bersama, tidak hanya bagi umat Islam sacara internal namun seyogyanya berdampak kepada masyarakat umum secara menyeluruh. Karena seperti yang diketahui, dalam piagam madinah yang merupakan dasar-dasar masyarakat Islam madani diperkenalkan antara lain mengenai wawasan kebebasan terutama di bidang agama dan politik. Sebagai bentuk implementasi dari hal tersebut, Nabi beserta kaum muslimin diizinkan mengangkat senjata, perang membela diri dan menghadapi musuh-musuh peradaban.

Lalu bagaimana agar ILMU kita tercinta ini memiliki suatu kualitas yang tinggi, tidak hanya dari segi intelektualitas, tetapi juga secara emosional maupun spiritual. Ketiga hal ini sangat berkaitan erat dengan SILATURRAHIM, dimana yang kita rasakan bersama sekarang ini di tubuh ILMU sendiri masih belum terasa maksimal usaha-usaha baik pengurus maupun anggota untuk meningkatkan eksistensi rasa persaudaraan dan rasa saling memiliki meskipun ada peningkatan kearah sana, tetapi masih terkesan setengah hati dan cenderung tidak konsisten. Atau dengan kata lain, silaturrahIm menjadi hal yang sangat penting dalam kaitannya dengan “terwujudnya suatu masyarakat ILMU yang madani” yaitu suatu komunitas yang berperadaban.

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang lebih penting dilakukan yaitu bagaimana agar nilai-nilai silaturrahmi  itu bisa membumi, yang dapat senantiasa mewarnai setiap aktivitas kita sebagai anggota komunitas sosial Ikatan Alumni YANMU (ILMU) NW Praya. Untuk itulah peran REUNI yang menjadi salah satu mediasi silaturrahIm menjadi sangat penting disini.

Beberapa tahun terkhir, sangat terasa sekali betapa tidak berkembangnya atau bahkan nilai-nilai persaudaraan diantara kita sudah mulai terkikis sedikit demi sedikit. Terbukti, setiap acara-acara silaturrahIm baik bentuknya REUNI-an maupun yang lainnya, kuantitas kehadiran teman-teman belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Padahal tahun demi tahun, jumlah alumni semakin bertambah. Lalu faktor apakah yang menyebabkan kondisi kita seperti ini ?? jawabannya sudah pasti.

Oleh karena itu, melalui perhelatan REUNI 2014 yang sebentar lagi akan dilaksanakan, mari kita tingkatkan rasa persaudaraan dan rasa saling memiliki di antara kita. Karena apabila keywords (‘rasa persaudaraan’ dan ‘saling memiliki’.red) yang dua ini terpatri dan bersinergi dengan baik dalam pribadi kita masing-masing, maka “apa yang tidak mungkin ILMU bisa lakukan ?”.
____________________________
Hujan Rintik-rintik   |   9/12/2013


Read more...

Powered by Textbook Widget